Sabtu, 17 April 2010

Ruang Terapi Autis di RS Pertamina Balikpapan Dilengkapi CCTV

SEORANG bocah berumur empat tahun datang ke Balikpapan Autis Center (BAC) Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) digandeng sang ayah. Tak peduli dengan orang sekitarnya, ia melangkah masuk dan langsung duduk di deretan bangku yang terletak di lorong ruangan.

PARA terapis pun ramai menyapa sang bocah. "Irfan sudah datang", "Irfan mau main apa?". Tapi sosok yang dipanggil Irfan ini hanya tertawa, menengok sekilas, kemudian turun dari kursi tempatnya duduk dan berlari hilir mudik.
Irfan adalah satu dari sekian banyak anak berkebutuhan khusus yang menjalani terapi di Klinik BAC. "Sejak umur dua tahun, kami diberitahu kalau anak kedua kami ini mengalami gangguan pendengaran. Kami pun diberitahu pihak rumah sakit untuk membawa Irfan terapi di Klinik BAC," ungkap Kabri, ayah Irfan.

Perubahan sedikit demi sedikit dirasakan Kabri dan istri setelah membawa Irfan terapi ke BAC. Irfan yang awalnya susah diarahkan, labil, dan sedikit interaktif, kini mulai bisa diarahkan. Di rumah pun Irfan tidak mudah marah atau menangis lagi. "Meski masih harus menggunakan alat bantu dengar, ia sekarang sudah mulai memahami instruksi yang dikatakan therapis maupun orang tuanya, mendengarkan pembicaraan orang lain," ujar Kabri.

Sekelumit tentang Irfan, mewakili kisah anak berkebutuhan khusus lainnya yang sedang menjalani terapi di klinik BAC. Klinik anak berkebutuhan khusus yang berada di bawah naungan manajemen RSPB yang hari ini, Minggu (4/4), berusia ke-23.

Rumah sakit yang awalnya hanya melayani kebutuhan medis karyawan perminyakan di Balikpapan, kini menjadi rumah sakit swasta yang melayani berbagai kalangan. Karyawan berbagai perusahaan, masyarakat umum, hingga peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Kota Balikpapan.

Enam tahun belakangan ini, yakni sejak 18 April 2004, RSPB melebarkan sayapnya dengan meresmikan Balikpapan Autis Center (BAC), klinik khusus bagi anak-anak yang juga memiliki kebutuhan khusus di Jl Cepu No 1, kawasan Panorama Balikpapan.

Memasang nama Autis Center, bukan berarti hanya melayani anak-anak penyandang autis tetapi berbagai kelainan lain pada anak, seperti Down Syndrome, Cerebral Palsy, Development Delay, ADHD (Atention Defisit Hyperaktif Disorder), serta Learning Disabilitis.

Hingga tahun ini, BAC pun telah merawat sedikitnya 110 anak dengan kebutuhan khusus. "Awalnya, kami merawat 26 anak dan rata-rata mereka sudah mengalami perubahan dan dapat bersekolah di sekolah reguler. Untuk sekarang ini, kami sedang menangani 21 anak dengan enam therapis yang ahli di bidangnya masing-masing. Setiap anak mendapat satu therapis yang akan selalu bersama selama satu jam. Mengapa? Agar masing-masing anak mendapat cukup perhatian dan penanganan yang serius terhadap masalahnya masing-masing," ungkap Penanggungjawab BAC, Sri Sulastri Amd OT.

Di BAC, tak hanya anak saja yang mendapat terapi, tetapi orangtua maupun pengasuh si anak juga dilibatkan dalam program terapi agar dapat mengulang di rumah. "Di sini (BAC) kami memberikan beragam terapi pada anak, mulai dari terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi, terapi sensori integrasi hingga terapi sosial dengan menggelar kunjungan-kunjungan ke berbagai tempat bersejarah maupun hiburan di Balikpapan," kata wanita yang akrab disapa Lastri ini.

Ruang terapi di BAC pun sengaja dirancang dengan konsep rumah bermain. Sehingga memberi kenyamanan buat anak dan dilengkapi dengan ruang terapi sensori integrasi, ruang okupasi terapi dan ruang terapi perilaku. Masing-masing ruangan dilengkapi dengan CCTV untuk memudahkan terapis memantau dan mengontrol kemajuan masing-masing penyandang tanpa mengganggu aktivitas mereka.

Dalam pemberian terapi, masing-masing penyandang akan ditemani oleh satu orang terapis dengan latar pendidikan Sarjana Psikologi, Okupasi Terapi dan Fisioteraphy, di bawah koordinasi Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik.

Selain itu BAC juga memiliki konsultan seorang Spesialis Psikiater Anak dan Remaja dari RS Dr Soetomo Surabaya yang datang berkunjung rutin untuk bertemu langsung dengan penyandang di BAC.

sumber: http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/53622

Bintang Bukan Anak Kecil (Kisah Anak Indigo)

Pertama bertemu dengan Bintang yang baru berumur 8 tahun ,saya merasakan dan melihat dia sebagai anak yang sangat cerdas.
Perawakan badanya yang agak besar serta sorot matanya yang tajam ditambah lagi dengan kepintarannya berdialog dan berargumen layaknya orang dewasa.

Namun ibu dan bapaknya teryata sudah pusing tujuh keliling menghadapi anak mereka yang katanya sangat nakal ini.
Di sekolah dulu kerjanya berantem melulu serta ketika mengikuti pelajaran malah ia berteriak teriak di kelas dan mengangu teman teman sekelasnya terutama yang wanita.

Dan suatu hari ia pulang sekolah dan lansung berkata :

“Aku ndak mau sekolah lagi bu ,karena yang mengajar saya gurunya masih anak kecil semua dan ilmu dan pengetahuannya tak ada guna ,aku lebih tahu daripada mereka hal hal yang diajarkan oleh mereka”

Dan bagaimanapun cara orangtuanya menbujuk Bintang tetap tak mau bersekolah.
Dan sering orang kampung datang meminta ganti rugi akibat kenakalan Bintang ini .
Pernah suatu hari datang tukang mie ayam bercerita :

“Bu anak ibu keterlaluan dia tadi minta mie gratis pada saya ,dan tak dikasih dia langsung memasukan pasir di mie dan kuah mie saya ,dan langsung lari “

Sudah berbagai cara di coba untuk mengobati kenakalan Bintang ini ,dengan menyekolahkan ke sekolah anak berkebutuhan khusus ,dan iapun mengamuk dan berkata:

“Ibu sadar ngak sih ? ,itu sekolah buat anak yang agak kurang kemanpuannya ,saya kan pintar ? Sekolah umun aja nilaiku bagus semua tanpa aku perlu belajar ,tapi aku lebih tua dari mereka ,termasuk kalian orang tuaku kalian masih anak kecil kalah jauh dengan aku “
Kemudian ia mengebrak meja dan mejapun hancur jadi dua.

Pernah juga seorang paranormal diundang kerumah mereka untuk mengobati atau mendoakan agar si Bintang tak nakal lagi ,dan apa yang terjadi ?
Bintang malah dengan santainya berkata :

“Pinjem dong cincinnya om ‘ dan iapun memegang cincin itu sebentar dan berkta :

“ki pulang aja sana ilmumu masih tangung ,sana belajar yang benar dulu ,” sambil mengembalikan cincin itu ,ketika paranormal itu memakai kembali cincin itu ia malah muntah darah.
Dan bintangpun ketawa dan berkata :

“Kubilang juga apa ,sana pulang ngelmu lagi yang tekun”

Ketika ibunya bercerita padaku iapun ikut menyimak dan ikut menimpali serta menberikan alasan alasan kenakalanya.
Terlihat dia seperti anak normal dan terkesan dewasa.
Waktu itu kamipun mengajak keluarga Bintang ketempat romo ,guru medetasiku.

Ketika sampai disana dan bertemu dengan romo ,romoku pun langsung bertanya :

“Kamu sama saya tua siapa? “

Dan Bintang menjawab :

“Ampun romo saya ngaku kamu lebih tua dan saya lakunya kalah jauh sama anda ,maukah anda menerima aku jadi muridmu ? “

Orang tua Bintangpun terheran heran melihat anak mereka begitu sopan pada romoku, dan akhirnya merekapun datang semingu sekali untuk sowan ke romoku serta Bintangpun mau belajar meditasi dan sedikit sedikit kenakalannya berkurang ,namun ia tetap tak mau bersekolah.

Lama sudah saya tak bertemu Bintang anak sakti dan nakal ini .
Dan banyak sekali fenomena anak anak indigo yang lahir sekarang yang menpunyai kemanpuan lebih ,dan tak mau mengikuti aturan umun serta sekolah umun.

Disebut indigo karena aura inti mereka nila tua ,yang biasanya dimiliki seorang yang tingkat spritualnya sudah matang seperti tokoh agama dan tokoh spritual yang sudah menjalani laku yang cukup sempurna.

Secara Budhisme anak anak indigo ini adalah roh tua ,yaitu putaran kelahirannya sudah banyak dan dalam setiap kelahirannya ia menbina diri dan punya tingkat spritual yang lumayan ,namum belum sempurna ,hinga kadang mereka bingung dan ego mereka agak tinggi karena merasa diri mereka tua dan hebat.
Hinga harus mendapat bimbingan dan arahan yang sesuai dan tak bisa dengan sistem paksa.
Dan munkin dilain kesempatan saya akan mengupas lagi tentang anak anak indigo ini.

Salam dami selalu.

sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/28/bintang-bukan-anak-kecil-kisah-anak-indigo/

Aroma Ke Agama-an di Anak Berkebutuhan Khusus

Sudah hampir 9 tahun saya menghabiskan waktu bersama Aini..

He he he.. Memang belum apa-apa memang jika dibanding dengan sederet-an ibu-ibu istimewa yang telah berjalan didepanku. (Salut untuk mereka semua) Pada umumnya.. mereka telah benar-benar “berjibaku”.. Sejak pagi-pagi sampai larut malam.

Begitu banyak pelajaran yang harus dikejar setiap harinya, mulai dari bina diri hingga pelajaran umum. Sayang justru banyak yang melewatkan pelajaran agama.

Alasan yang disampaikan beragam. Lebih banyak, berpijak pada, anak-anak ini hampir dapat dikatagorikan orang-orang yang “sakit”, yang tidak punya kewajiban untuk melakukan hal-hal yang bersifat “fardhu ain”. Berlawanan dengan semangat untuk berusaha memberikan bekal “life skill”, menggebu-gebu.

Yup.. jujur.. sayapun baru terbuka pemikiran, ketika melihat perkembangan Aini menyerap ilmu agama, disekolah inklusinya.

Sebenarnya hal ini juga tidak jauh dari sifat-sifat istimewa yang mereka miliki, diantaranya

1. Anak-anak istimewa, terutama anak-anak autistik.. pada umumnya memiliki kemampuan visual dan pendengaran yang tinggi. Melebihi kemampuan nalarnya. Lihat saja, ananda Kharisma (si penghapal lagu dari Semarang) hanya dengan melihat dan mendengar, ia dapat menirukan persis seperti apa yang tersaji didepan matanya.

2. Kepatuhan mereka pada sebuah keteraturan. Ketika mereka telah terbiasa mengikuti sebuah alur kebiasaan, mereka tak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun. Malah ada kecenderungan untuk bersikap menolak atau bahkan melawan, ketika kebiasaan tersebut diubah.

Dua sifat yang luar biasa….

Pengalamanku bersama Aini, juga tidak jauh beda.

Awalnya memang kulakukan karena saya selalu bersamanya (rumah kami jarang ada pembantu). Secara tidak sengaja, Aini terlibat dalam setiap aktifitasku.. mulai dari mengurus rumah hingga kewajiban 5 waktuku. Jika saat sholat tiba, kubentangkan 2 sajadah. Satu untukku dan satu lagi untuk Aini. Yah.. memang sampai sekarang kemajuannya dibidang ini, masih standrat… Kadang mau sholat, kadang bermain-main sendiri. Kadang sholatnya lebih lamaaaa dibandingkanku… kadang baru mulai,.. dia sudah berteriak sudah-sudah dan melipat sajadahnya. Tips.. saat saya sedang berhalangan (karena sulit menerangkan kepadanya kenapa hari ini ibu tidak sholat bersama) saya memperkenalkan Aini pada pembalut. Mulai dari yang sangat tipis … Dan mengatakan padanya, jika Aini atau ibu memakai pembalut, artinya hari itu, tak ada sholat lima waktu. Alhamdulillah berjalan baik.. Dan Alhamdulillah juga ini sesuai dengan langkah-langkah “mengajarkan” dan “mempersiapkan” anak-anak berkebutuhan khusus memasuki usia remaja.

Yang kedua.. Aini senang jika kubawa ke majelis taklim. Saya sengaja pilihkan majelis taklim yang ruangannya dapat di isolir.. sehingga saya masih dapat mengawasi Aini mondar mandir. Saya memang termasuk yang beruntung, mendapat teman-teman seIman yang mendukung. Mereka tidak keberatan ketika Aini sedang gelisah.. dan banyak memberiku semangat..

Aini juga senang mendengarkan saya atau bapaknya mengaji. Tak jarang ia mencoba menirukan semaksimal yang ia bisa..

Hingga kini.. saya masih terus berusaha..

Yuupp… memang perjalananan masih panjang. Saya tidak akan pernah mau membandingkannya dengan anak-anak seusia yang sudah hapal surat-surat pendek, sudah memasuki jilid tertentu dari rangkaian “Qiroati” atau hal-hal lain. Saya sudah cukup banyak bersyukur ketika : Sesekali, disaat masuk waktu sholat (kadang kala tanpa mendengar suara adzan, mungkin ada “jam” tersendiri ya dalam dirinya) Aini bergegas mengambil sajadah.., mencari-cari mukenanya.. tanpa disuruh. Atau.. tiba-tiba, ia melagukan beberapa ayat-ayat suci Al-Qur’an.. dengan bahasa sederhananya. Atau mengucapkan doa-doa harian ketika akan melakukan suatu aktifitas.

Saya makin yakin.. anak-anak istimewa sebenarnya teramat sangat dapat belajar agama. Asalkan kita mau mengkondisikan. Biarkan saja, mereka menerimanya sebagai bagian dari rutinitas dan bukan bagian dari keyakinan. Pada saatnya nanti.. jika telah sampai waktu yang Allah ijinkan, pasti pemahaman ini akan datang dengan sendirinya. Metode yang sama, dengan pelajaran membaca, menulis dan berhitung yang susah payah kita ajarkan pada mereka.

Tidak boleh putus asa.. dan terus… terus… mau berupaya.., Allah tidak melihat hasil akhir dari perbuatan kita, tetapi bagaimana upaya kita mempersiapkan dan memperjuangkan. Kalimat-kalimat yang terus-menerus saya ulang berkali-kali, agar tetap bersemangat.

Paling tidak.. jauh dalam lubuk hatiku.. saya berharap : Jika ternyata dengan segala upayaku.. Aini tetap tak mendapatkan “dunia”.. semoga Allah masih ijinkan ia untuk meraih “Akhirat”. Insya Allah Ia akan menghadap panggilanNYA, suatu hari nanti, dengan kepasrahan dan keyakinan seorang muslimah sejati. Amin

by: yanti

sumber: http://cahayamuslimah.com/blog/aroma-ke-agama-an-di-anak-berkebutuhan-khusus

Pencari Bakat Anak Berkebutuhan Khusus

Tidak ada kesejarahan yang menyebabkan keterlibatannya dengan dunia orang-orang berkebutuhan khusus, kecuali latar belakang kuliahnya di IKIP Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Luar Biasa. Tidak banyak pula orang yang berusaha menampilkan orang-orang berkemampuan khusus ini secara massal dalam sebuah gerakan.Orang yang melibatkan diri dalam dunia orang-orang berkebutuhan khusus dalam satu kehebohan massal itu adalah Ciptono.Kehebohan terjadi pada suatu hari di tahun 2002. Pada hari itu, jalan-jalan protokol Kota Semarang dipadati arak-arakan mereka yang berkebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan tunagrahita. Mereka berjalan perlahan, merayap di atas kursi roda bersama orangtua dan guru-guru sekolah luar biasa. Hari itu sekan-akan menjadi ”hari mereka yang berkebutuhan khusus”.”Tujuan saya mengadakan acara bagi mereka yang berkebutuhan khusus itu tidak lain untuk mencari bakat-bakat terpendam yang ada pada diri mereka. Ternyata saya memang bisa menemukan bakat-bakat mereka,” kata Ciptono.Dia mengenang kiprahnya di balik penyelenggaraan acara bertajuk ”Lomba Jalan Sehat Keluarga Pendidikan Luar Biasa” itu.Pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, ini ditemui di Jakarta pekan lalu seusai menerima penghargaan ISO 2009 di Lampung.Ciptono lalu menjelaskan latar belakang diadakannya acara jalan sehat itu. Acara tersebut diselenggarakan agar para siswa berkebutuhan khusus bisa tampil lebih percaya diri di tengah masyarakat. Prinsipnya, kata Ciptono, ”Mereka (berkebutuhan khusus) tidak perlu dikasihani, tetapi harus diberi kesempatan.”Maka, acara itu kemudian digunakan sebagai kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menampilkan kemampuannya, di bidang seni maupun keterampilan.Dari acara terbesar pertama di Semarang bagi mereka dengan kebutuhan khusus ini ditemukanlah Delly Meladi, penyandang tunanetra bersuara merdu yang mampu menghafal lebih dari 1.000 lagu. Penyandang tunanetra lainnya, Mega Putri, ditemukan sebagai pembaca puisi. Ada lagi Bambang Muri, penyandang tunagrahita, yang sama seperti Delly pandai bernyanyi.Ciptono tidak menyangka bahwa kegiatan jalan sehat itu telah melahirkan efek domino yang baik bagi perubahan mereka dengan kebutuhan khusus. Selain bisa muncul dari panggung ke panggung, suara mereka juga direkam dalam bentuk kaset atau video compact disc (VCD).Sampai sekarang Ciptono telah menghasilkan lima VCD dan satu kaset. Salah satunya adalah VCD yang dikeluarkan Badan Koordinasi Pendidikan Luar Biasa Jawa Tengah berlabel Keplok Ora Tombok (ikut bersenang-senang tanpa membayar).VCD itu menampilkan Delly, Mega, dan Bambang. Penari latar yang mengiringi ketiga penyanyi itu pun berasal dari siswa-siswi SMALB C/D1 YPAC Semarang.”Pokoknya semua yang terlibat di dalamnya adalah anak-anak berkebutuhan khusus,” kata Ciptono.Orangtua mampuSetelah lulus dari Universitas Negeri Yogyakarta (dulu bernama IKIP Yogyakarta) tahun 1987, Ciptono langsung mengajar di SLB Wantu Wirawan Salatiga dengan gaji Rp 5.000 per bulan plus Rp 700 untuk uang transpor.Dia berkisah, uang sebesar itu habis dalam waktu lima hari saja. Untunglah, karena orangtuanya terbilang mampu, ongkos transportasi sehari-hari ditanggung ayahnya, Jayin Hartowiyono. Sementara sang ibu, Suntianah, menyerahkan semua keputusan untuk tetap mengajar di SLB kepada Ciptono.Dia mengaku, jiwa sosial untuk menolong anak-anak berkebutuhan khusus itu muncul sejak lulus SMA tahun 1982.”Maunya lulus Fakultas Kedokteran UGM karena saya bercita-cita menjadi dokter. Tetapi, karena diterimanya di IKIP Jurusan Pendidikan Luar Biasa, ya saya harus mengajar di SLB,” katanya.Meski orangtuanya cukup berada karena memiliki armada bus Gotong Royong dan Hidayah di kota kelahirannya, Salatiga, saat masih kanak-kanak Ciptono dititipkan kepada neneknya dengan pendidikan ”keras”. Ia mengaku, neneknyalah yang mendidiknya untuk mencintai sesama, khususnya mereka yang tidak mampu dan berkekurangan.”Boleh dibilang saya dilatih (Nenek) untuk tidak tegaan,” katanya.Tahun 1989 ia mengajar Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa dan dasar-dasar pendidikan luar biasa di pendidikan guru agama negeri. Pada tahun itu juga ia menjadi calon pegawai negeri sipil SLB C YPAC Semarang. Dari keseringannya bergaul dengan mereka yang berkebutuhan khusus, Ciptono mulai menemukan kenyataan bahwa di antara anak-anak itu ada yang memiliki bakat khusus.Misalnya, ia menemukan Andi Wibowo, penyandang tunagrahita yang mampu menggambar dengan menggunakan dua tangan secara bersamaan. Andi ”hanya” memiliki IQ 60, di mana umumnya, menurut Ciptono, anak-anak itu ber-IQ 90.Untuk memunculkan anak-anak berkebutuhan khusus yang punya kemampuan khusus, ada saja acara yang dia ciptakan setiap tahun, mulai dari donor darah, halalbihalal, sampai merayakan Natal. Semua acara itu selalu melibatkan siswa-siswi berkebutuhan khusus. Sampai-sampai saat mereka tampil di sebuah mal pada 19 Desember 2008, banyak orang tidak percaya bahwa itu suara asli mereka yang berkebutuhan khusus.”Mereka tahunya itu suara pura-pura atau tiruan, bukan suara mereka yang sebenarnya. Padahal, itu asli suara mereka dengan kebutuhan khusus, mulai dari tingkat SD sampai SMA,” tutur Ciptono.Tujuh rekorAtas prestasinya memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus, Ciptono yang pada 2003 menyabet juara I Lomba Mengarang dan Pidato Antarguru SLB se-Jawa Tengah itu mendapat berbagai penghargaan dari dinas pendidikan sampai Departemen Pendidikan Nasional.Ia juga memperoleh tujuh rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) atas kepeduliannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Penghargaan lainnya adalah sebagai guru SLB berdedikasi tinggi dari dinas pendidikan setempat pada tahun 2003. Tahun 2005 ia menerima penghargaan sebagai guru berdedikasi tinggi dari Mendiknas Bambang Sudibyo, dan tahun 2006 menjadi juara guru kreatif.Agustus 2008 Ciptono menyabet juara pertama lomba manajemen pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus tingkat nasional.”Saya mendapat hadiah Rp 10 juta dari Gubernur Jawa Tengah atas prestasi ini,” kata Ciptono yang tiga kali mendirikan SLB, yakni SLB Hajjah Sumiati, SD Bina Harapan, dan belakangan ini ia membuka sekolah di garasi untuk anak-anak berkemampuan khusus.Jabatan formal Ciptono adalah Kepala Sekolah SLBN Semarang yang membawahkan 60 karyawan dan guru. Sepuluh di antaranya sudah menjadi pegawai negeri sipil, sedangkan selebihnya masih sebagai tenaga honorer.Uniknya, 20 persen karyawannya itu haruslah dari anak-anak berkebutuhan khusus. Sekarang ini, misalnya, dikaryakan dua penyandang tunadaksa, dua penyandang tunarungu, dan satu penyandang tunanetra.”Asisten guru pun diangkat dari anak-anak berkebutuhan khusus ini,” kata Ciptono menambahkan.

sumber: http://adindachaniagotnnr07.blogspot.com/2009/05/pendidikan-khusus-2.html

Rumah Cinta Anak-anak Spesial

Seperti semua anak lainnya, anak-anak autis pun punya hak atas pendidikan dan terapi. Namun pada kenyataannya, hak-hak mereka sering terabaikan. Lebih-lebih mereka yang lahir dari keluarga tak mampu.
-----

Ismunawaroh bukan ibu dari anak autis. Tapi ia tahu betul bagaimana perjuangan orang-orangtua yang punya anak autis. “Punya anak autis itu tidak hanya menguras dompet, tapi juga betul-betul menguras air mata,” katanya. Tahun 2004, perempuan yang biasa dipanggil Isti ini bekerja sebagai terapis di sebuah lembaga terapi anak autis di Bekasi. Di situ ia mulai mengamati betapa biaya terapi buat anak autis benar-benar tidak terjangkau oleh mereka yang berasal dari keluarga tak mampu.

Salah satu anak autis yang ia tangani adalah Ana, yang waktu itu berusia 2,5 tahun. “Anaknya sangat hiperaktif!” kata Isti menggambarkan kondisi Ana saat pertama dibawa ke pusat terapi. Sudah hiper, sangat pula. Bisa dibayangkan betapa repot kedua orangtuanya.

Perawakannya kecil tapi aktifnya luar biasa. Tidak bisa diam, selalu lari ke sana kemari. Jika berjalan, apa saja yang berada di depannya akan ditabrak. Di usianya yang sudah menginjak 2,5 tahun, ia masih belum bisa berkomunikasi sama sekali. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Ia seperti hidup di dunianya sendiri, tidak punya kontak mata dengan orang lain.

Bapaknya, Yasmir, seorang Satpam dengan penghasilan Rp 700 ribu sebulan. Sedangkan biaya terapi Ana waktu itu Rp 1,2 juta sebulan. Besar pasak daripada tiang. Karena tak kuat membayar biaya terapi, Yasmir akhirnya menghentikan terapi buat Ana meskipun ia kewalahan merawat anaknya. Ketika pamit dari pusat terapi, Yasmir sempat curhat kepada Isti. Curhat Yasmir yang mengharukan itu ternyata begitu membekas di pikiran Isti sampai membuat ia berkeinginan membuat pusat terapi sendiri khusus buat anak-anak dari keluarga tak mampu.

“Sebetulnya pusat terapi autis cukup banyak, tapi kebanyakan masih tak terjangkau oleh keluarga miskin,” kata Isti. Ini pun masih ditambah oleh rendahnya kesadaran orangtua untuk memberikan terapi dan menyekolahkan anak autis. Maklum, masih banyak orangtua yang bahkan belum pernah mengerti apa itu autis.

Di Indonesia, pendidikan untuk anak-anak autis ini bisa dibilang belum mendapatkan perhatian dari Departemen Pendidikan Nasional. Biasanya mereka ditampung di Sekolah Luar Biasa (SLB). Padahal, kondisi masing-masing anak autis ini sangat khas dan membutuhkan penanganan yang individual. Tidak semua dari mereka mengalami retardasi mental. Tak sedikit anak autis yang sangat cerdas. Karena itu mereka tidak bisa begitu saja ditangani dengan cara pendidikan SLB. Anak-anak itu harus diperlakukan sesuai kondisi mereka, apa adanya.

Bersama Henny Marifah, teman sesama terapis, Isti kemudian mematangkan rencana. Tapi mereka berdua terkendala masalah biaya. Soalnya, untuk membuat pusat terapi autis tidak semudah membuat taman kanak-kanak atau taman bermain. Alat terapi dan bermain harus didesain secara khusus. Terapis juga harus mendapatkan pelatihan khusus. Itu semua membutuhkan biaya yang cukup banyak.

Beruntung, Isti dan Henny kenal dengan pasangan suami-istri yang punya kepedulian serupa, Deka Kurniawan dan Laeli Ulfiati. Gayung pun bersambut. Deka, yang berprofesi sebagai wartawan dan punya banyak kenalan, kemudian bertindak sebagai eksekutor. Dengan modal tekad, di akhir 2004, mereka mendirikan Yayasan Cahaya Keluarga Kita (YCKK) untuk mewujudkan ide membuat pusat terapi autis.

Dengan dibantu Hambali, adik Deka, mereka menyulap rumah kontrakan keluarga Deka di Bekasi yang sederhana menjadi tempat terapi. Bagian dalam rumah disekat-sekat dengan tripleks. Satu kamar digunakan sebagai ruang pribadi untuk keluarga Deka, sisanya untuk ruang terapi. Isti dan Henny mengundurkan diri dari tempat kerja mereka dan menjadi terapis penuh waktu di Rumah Autis yang mereka rintis.

Ana yang baru saja putus terapi menjadi murid pertama di situ, bersama tiga anak lainnya: Sarah (8 tahun), Asril (5 tahun), dan Khalid (7 tahun). Semuanya berasal dari keluarga dengan penghasilan beberapa ratus ribu sebulan. Deka, Laeli, Isti, dan Henny bukan hanya harus bekerja tanpa bayaran, tapi juga harus menanggung semua biaya yang dibutuhkan untuk kelangsungan Rumah Autis.

Dengan memanfaatkan jaringannya sebagai wartawan, Deka berjibaku mencari donatur. Usahanya tak sia-sia. Setelah berjuang pontang-panting, ia berhasil mengetuk hati beberapa donatur, di antaranya Hidayat Nurwahid (ketua MPR), istri Duta Besar Uni Eropa, Pemerintah Daerah Bekasi, dan banyak donatur lainnya. Sebagian menyumbang uang, mainan, komputer, dan lain-lain.

Dengan bantuan donasi itulah mereka mencukupi kebutuhan biaya Rumah Autis. Pelan-pelan Rumah Autis pun menambah murid baru. Para orangtua anak autis itu tidak diwajibkan membayar. Mereka hanya menyumbang semampu mereka. Ada yang menyumbang uang sekadarnya, menyumbang makan siang, makanan kecil, kue, pisang goreng, bala-bala, bahkan ada pula yang menyumbangkan tenaga membersihkan rumah. Meskipun nilai materialnya tidak begitu besar, sumbangan itu menyalakan semangat dan kesabaran para terapis yang tiap hari harus berjuang melawan stres karena menangani anak-anak yang susah diatur.

Pihak yayasan bahkan ikut membantu membina keluarga yang tingkat kemiskinannya mungkin sampai di luar bayangan kita. Seperti yang terjadi pada keluarga Hamzah, salah satu murid. Ibunya, yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, berjualan gorengan dengan penghasilan Rp 150 hari sebulan. Padahal ia harus menghidupi tiga orang anak, dan salah satunya autis.

Sehari-hari, Hamzah tidak mau makan nasi. Ia hanya mau makan kentang goreng terus-menerus. Ia juga punya masalah penglihatan. Kedua matanya yang plus sepuluh pernah dioperasi katarak. Kalau ia berjalan, meja, tembok, kursi, orang, apa saja akan ditabrak. Siapa saja yang berusaha menghalangi jalannya akan ia cakar, gigit, dan tendang, tak peduli siapa pun dia. Bisa dibayangkan betapa repot si ibu yang harus merawat Hamzah. Oleh pihak yayasan, Hamzah, yang rumahnya di Cijantung, Jakarta Selatan, kemudian dicarikan kontrakan yang dekat dengan Rumah Autis di Bekasi.

Kesabaran tak ada batasnya
Sembari jumpalitan mencari donatur, Deka juga berkeliling mencari tenaga relawan yang bersedia bekerja tanpa gaji. Para relawan terapis dan asisten terapis itu setiap hari harus bersedia dicakar, digigit, ditendang, atau dilempari papan tulis oleh anak-anak yang hiperaktif. Selain berhasil merekrut para terapis, Deka juga berhasil mengajak dua orang dokter untuk bergabung. Tugas mereka, secara berkala datang ke Rumah Autis untuk memeriksa kesehatan anak-anak autis di situ. Tanpa bayaran.

Setelah terjun total di dunia terapi autis, Isti, yang pernah dilempari papan sampai bibirnya pecah, mengaku memperoleh pelajaran besar dalam hidupnya. “Kesabaran itu seperti samudera,” katanya. Kita tidak tahu di mana batas kesabaran itu karena saking luasnya. Tidak seperti pandangan umum yang menyatakan bahwa kesabarana ada batasnya.

Dengan keikhlasan dan kesabaran yang luar biasa dari semua relawan, Rumah Autis sedikit demi sedikit terus beranjak menjadi lebih profesional dan tertata. Dengan bantuan donatur, Rumah Autis kemudian bisa menyewa sebuah ruko berlantai dua di daerah Jati Kramat, Bekasi. Seiring dengan makin banyaknya murid yang diterima, sedikit demi sedikit tenaga terapis dan guru juga ditambah. Maklum, proses terapi anak autis harus dilakukan satu guru satu murid. Kriteria para terapis yang direkrut pun tetap sama: bersedia bekerja dengan imbalan seadanya, dan tiap hari harus bersedia dicakar, digigit, dan ditendang anak-anak.

Kini kegiatan Rumah Autis bukan hanya sebagai pusat terapi, tapi juga menyelenggarakan sekolah khusus buat anak-anak autis. Dengan jumlah terapis (plus asisten) 13 orang, Rumah Autis kini menangani 55 anak. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran sebuah yayasan yang dibangun dengan modal tekad saja.

Sebagian besar murid berasal dari keluarga tak mampu. Mereka hanya bisa berkontribusi seratus atau beberapa ratus ribu rupiah sebulan. Angka ini terbilang jauh dari semestinya karena biaya terapi anak autis normalnya sekitar Rp 60 ribu per jam. Untungnya, sebagian orangtua murid termasuk keluarga mampu. Mereka ini sekaligus bertindak sebagai donatur yang bersedia membayar lebih tinggi untuk subsidi silang.

Saat ini Rumah Autis bahkan sudah punya empat cabang yang tersebar di Gunung Putri (Bogor), Tanjung Priok (Jakarta Utara), Tangerang dan Depok. Kini, tiap hari Rumah Autis Bekasi selalu ramai oleh “anak-anak spesial”. Ini sebutan sayang untuk mereka, selain sebutan “anak-anak berkebutuhan khusus”.

Secara fisik, mereka tidak jauh berbeda dari anak-anak kebanyakan. Ana, murid pertama yang kini berusia 6 tahun, sudah bisa membaca dan berkomunikasi. Hiperaktifnya juga sudah bisa dikendalikan. Sarah, yang dulu dulu dijuluki “tsunami” (karena apa saja ditabrak kalau berjalan), kini sudah masuk sekolah khusus, komunikasinya juga sudah lancar. Ia sudah mandiri, bisa mandi dan memakai pakaian sendiri, bisa memasak, membuat jus, teh, dan mengurus diri sendiri.

Kini, di usia Rumah Autis tahun kelima, Isti mengaku masih punya obsesi membuat tempat khusus untuk mempekerjakan karyawan autis. Sekarang, keinginan ini memang masih sebatas cita-cita. Tapi Isti yakin, cita-cita itu akan terwujud kelak dengan modal ikhlas dan sabar. Itu adalah dua bekal utama saat mereka pertama menjadikan rumah kontrakan Deka sebagai tempat terapi autis. “Kami tidak punya materi yang bisa diberikan kepada mereka, tapi kami punya tenaga dan pikiran yang mungkin bisa bermanfaat buat mereka.” Itulah cara mereka berbagi. (M. Sholekhudin)


sumber: http://emshol.multiply.com/journal/item/505/Rumah_Cinta_Anak-anak_Spesial_

Hypnotherapy series : Balada anak dengan Kebutuhan Khusus ” Special Need”

by : dr Rahmat Yanuardi
Lulusan School of Mind Reprogramming

Mereka.. bagaikan daun kering yang berserakan.. ketika tidak berguna maka Mereka akan dibuang. Sesaat tampak saya yg menolongnya.. Padahal sayalah yang mereka tolong.. melalui deritanya.. mereka menolong saya agar meyakinkan diri, untuk berbuat “lebih” supaya mereka tidak sekedar menjadi daun kering yang terlupakan.. Yaa Robb.. Bimbinglah hamba..

Inilah yang saya rasakan, ketika saya menerima sebuah surat pendek yang indah, ditulis tangan di atas sobekan kertas buku tulis.. oleh seorang anak perempuan berumur 9 tahun.. anak dengan “kebutuhan khusus” kategori slow learner yang sangat pendiam, yang merasa dirinya ditolak oleh lingkungannya.. bahkan oleh salah satu orangtuanya.. serangkaian kisah sedih diutarakan olehnya, bahkan jujur sayapun sempat meneteskan airmata ketika sedang raport building dengannya.. dia, tidak mengharapkan sesuatu yang mewah, tidak juga sesuatu yang berlebihan, dia hanya ingin diterima oleh teman teman sebayanya, oleh keluarganya, dia hanya ingin dihargai.. walau dia dalam mengerjakan sesuatu tidak memberikan hasil yang “sempurna”.. dia.. sangat perasa.. kerap kali perasaannya hancur ketika dirinya dimarahi.. selama ini dia mengharapkan orang yang bisa bertutur lembut kepadanya.. yang bisa menghargai dirinya apa adanya..

Ada sepenggal kisah yang sangat mengusik perasaan saya.. yaitu ketika waktunya dia belajar.. dia tidak tidak bisa konsentrasi.. dia selalu menoleh kekiri atau kekanan.. ketika saya tanya: “kamu melihat apa?” dia menjawab: ” aku melihat **** (salah satu orang tuanya)” .. “oohh.. memang **** sedang apa?” balas saya.. “**** sedang main sama adek..” jawabnya, dan sayapun melihat matanya memerah dan lambat laun airmatanya pun bergulir jatuh dari kedua sudut matanya.. lalu menundukan wajahnya.. “Hhmm.. sebenernya kamu juga ingin main bersama **** dan adek ya?” menunduknya pun semakin dalam.. dan spontan ada sesuatu yang langsung menghantam kalbu saya.. begitu keras.. dan tidak terasa air mata sayapun ikut mengalir jatuh.. Andai saja, kedua orangtuanya bisa menyaksikan cerita anaknya, mungkin mereka akan tersentak dan sadar betapa mereka selama ini telah mengabaikan seorang anak yang istimewa.. sampai saat ini saya menulis artikel ini mata saya masih berkaca kaca bila mengingat saat itu..

Adalah kebanggaan tersendiri bagi saya saat dia memberikan surat ungkapan terimakasih kira kira dua jam setelah selesai therapy.. saya begitu terkejut.. dan saya menyadari.. bahwa diluar sana masih banyak anak2 yang diabaikan oleh orang tuanya hanya karena anak tersebut memiliki “kebutuhan khusus” anak ini membuat saya tersadar bahwa saya sebagai hypnotherapy bisa berbuat lebih bagi mereka.. anak anak yang memiliki “kebutuhan khusus” dan “anak yang ditolak oleh keluarganya” .. dalam hati saya: ” nak.. kamulah sesungguhnya yang membantu saya…”

Beruntung beberapa hari sebelumnya saya mendapatkan tekhnik yang “sederhana tapi canggih” dari mas Antonius Arif dan diberikan masukan yang “luar biasa” dari mas Teddi Prasetya Yuliawan.. sehingga hanya dalam waktu 15 MENIT SAJA, saya bisa membantu klien istimewa saya untuk bisa keluar dari penjara sedih, marah, dan murung.. tidak ada perasaan lain yang sangat luar biasa yang mampu menandingi saat ya bisa melihat dia tersenyum.. bahkan tertawa.. dan diapun selalu tersenyum sejak keluar dari ruangan kepala sekolah, sampai tiba waktunya dia pulang kerumah..

Cerita ini saya dedikasikan khusus untuk para trainer saya yang sangat baik dan rendah hati, dan tentunya untuk school of mind reprogramming.. karena telah berperan membuat sebuah “PERUBAHAN” Alhamdulillah…

sumber: http://www.mind-reprogramming.com/balada-anak-dengan-kebutuhan-khusus-special-need/

SEKOLAH SPESIAL BAGI ANAK SPESIAL

Farhan, presenter kondang, sempat kerepotan ketika Rizki, putra pertamanya, mulai masuk usia sekolah. Pasalnya, Rizki, yang kini berusia 10 tahun, terlahir sebagai anak spesial dengan autisme.Guna mencari lingkungan yang nyaman bagi Rizki, Farhan sempat memindahkan anaknya itu hingga ke enam sekolah yang mengklaim diri sanggup mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus ini.

Akhirnya Farhan menemukan sekolah itu di bilangan Cibubur, Jakarta Timur. Ia tidak peduli bahwa untuk sampai ke sekolah itu perlu waktu dan biaya yang tak sedikit pula. "Bagi saya, sekolah itu investasi besar yang tak bisa main-main. Soal biaya sekolah, yah habis satu (mobil Kijang) Innova, deh," katanya terbahak.Bukan fasilitas modern yang dicari Farhan dan mungkin sejumlah orang tua, yang punya anak dengan autisme, lainnya. "Tapi yang terpenting, apakah pihak sekolah bisa menyayangi anak saya enggak?" kata Farhan. Memilih sekolah memang menjadi persoalan tersendiri bagi anak dengan autisme. Hambatan mereka dalam masalah komunikasi sering membuat anak-anak dengan kebutuhan khusus ini jadi pihak yang sulit dimengerti oleh lingkungan awam.

Perlu dukungan orang tua dan lingkungan sekitarnya agar anak autistik dapat menjalani kehidupan layaknya anak-anak lain. Ini jadi Kepedulian orang tua, keluarga, terapis, dan sekolah yang berkumpul dalam acara Autism and Friends, yang diadakan London School of Public Relations di Senayan City, Jakarta, beberapa pekan lalu.Bagaimanapun sekolah jadi salah satu pilar pendukung pendidikan bagi anak dengan autisme. "Keberhasilan penanganan autisme adalah kerja sama antara orang tua, dokter spesialis anak, psikiater, neurolog, spesialis rehabilitasi medis, psikolog, terapis, dan guru," kata Tri Gunadi dan Pusat Terapi Tumbuh Kembang Anak Yayasan Medical Exercise Therapy.

Namun semua itu idealnya harus punya satu kesamaan, yaitu bisa mencintai anak dengan tulus. "Biasanya anak tahu hal ini dan merasakannya, Uw," kata Tri. Maka Tri menyarankan, pilihlah terapis atau penyelenggara sekolah yang menyukai dunia anak-anak, bukan cuma sekadar mencari uang dengan bekerja sebagai guru atau terapis.Mereka, tutur Tri, biasanya punya kepribadian yang hangat, berkomunikasi dengan baik, ekspresif, suara yang jelas, dan fisik yang mendukung. Juga, "Punya pendidikan yang mendukung dan selalu haus akan ilmu penanganan anak autistik, hingga tahu teknik serta program terapi yang benar."

Untuk memahami anak dengan autisme, Kepala Sekolah Cita Buana Diah S. Rajasa mengatakan, orang tua dan pengajar harus sama-sama yakin anak autistik memiliki kesempatan untuk maju secara beragam.

Seluruh penyelenggara sekolah idealnya punya visi yang sama tentang penanganan anak dengan autisme. Salah satu yang paling penting dilakukan, misalnya, menghentikan stigma terhadap anak autistik. "Saya sangat menentang menjadikan istilah autis sebagai ungkapan buruk, seperti label autis ,"kata Diah.

Di sekolah yang bersedia mendidik anak dengan autisme, seyogianya tiap pengajar dan staf punya kemampuan menangani anak yang tantrum. "Jadi tak akan menjadi kehebohan," Diah melanjutkan.

Untuk menciptakan suasana belajar yang tenang, anak dengan autisme perlu memahami aturan main dalam belajar. Penerapan penghargaan dan sanksi juga penting, meski sebelumnya anak pengidap autistik harus diajak bersepakat tentang aturan mainnya. "Kami menggunakan jadwal atau petunjuk secara visual untuk mengurangi tingkat stres siswa," tuturnya.

Anak dengan autisme biasanya bisa belajar lebih efektif bila ada konsistensi dengan menggunakan teknik tertentu. "Harus ada jadwal yang pasti. Anak autistik tidak mengenal abu-abu, tidak ada kata mungkin," kata Diah. Perubahan akan membuat mereka tantrum -ekspresi yang bagi orang biasa dianggap tidak wajar, misalnya berteriak-teriak.

Selain itu, perlu latihan bersosialisasi dengan melibatkan siswa dari kelas reguler. "Ini akan jadi pembelajaran buat mereka, karena suatu saat mereka juga akan hidup bermasyarakat," tutur Diah. Kondisi ini tentu saja tak selalu ideal. Misalnya saja Diah menyebutkan, ada kemungkinan siswa pengidap autistik jadi korban kekerasan di sekolah dan merasa dirinya berbeda dengan yang lainnya.

Diah juga menyebutkan, tekanan dan kegagalan siswa bisa menimbulkan stres, yang membuat anak dengan autisme merasa berbeda, terisolasi, hingga menunjukkan perilaku tak terkendali dan agresif. Tapi dengan kesamaan visi antara orang tua dan tiap penyelenggara sekolah bahwa tiap anak berhak atas kasih sayang, ia yakin hal itu bisa diatasi.

Ringkasan Artikel Ini

Guna mencari lingkungan yang nyaman bagi Rizki, Farhan sempat memindahkan anaknya itu hingga ke enam sekolah yang mengklaim diri sanggup mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. Bukan fasilitas modern yang dicari Farhan dan mungkin sejumlah orang tua, yang punya anak dengan autisme, lainnya. Mereka, tutur Tri, biasanya punya kepribadian yang hangat, berkomunikasi dengan baik, ekspresif, suara yang jelas, dan fisik yang mendukung. Juga, "Punya pendidikan yang mendukung dan selalu haus akan ilmu penanganan anak autistik, hingga tahu teknik serta program terapi yang benar." Di sekolah yang bersedia mendidik anak dengan autisme, seyogianya tiap pengajar dan staf punya kemampuan menangani anak yang tantrum. Diah juga menyebutkan, tekanan dan kegagalan siswa bisa menimbulkan stres, yang membuat anak dengan autisme merasa berbeda, terisolasi, hingga menunjukkan perilaku tak terkendali dan agresif.

sumber: http://bataviase.co.id/content/sekolah-spesial-bagi-anak-spesial