Minggu, 25 April 2010

PENDIDIKAN UNTUK PENYANDANG AUTISMA

”Ketika saya ingin menyekolahkan Ivan ke sekolah dasar, banyak sekolah yang tidak mau menerima. Bahkan banyak teman Ivan semasa di TK tidak jadi masuk ke sekolah tersebut karena tahu Ivan mendaftar.” Itulah duka Hety Kamiyati Purwaasih (36), ibu dari Moch Lutfansyah Naurambia (7), peyandang autisma.

Pertanyaan ke mana penyandang autisma harus bersekolah---di sekolah umum atau sekolah khusus---sungguh amat menarik karena hingga kini masih membingungkan. Pemerintah memang menetapkan bahwa semua sekolah umum sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar di lembaga pendidikan mana pun. Namun, pada praktiknya lebih banyak sekolah yang menolak mendidik anak-anak autis dengan berbagai alasan. Itu pula yang dialami Irwan Wibowo (34), orangtua dari Arbiyo (4) penyandang autis. "Bilapun ada sekolah yang menerima anak autis, banyak guru yang belum sigap menangani mereka. Padahal, para penyandang autisma rawan menerima cemoohan atau kekerasan fisik dari murid-murid lain. Namun, umumnya para orangtua tak berani mengeluh karena takut anaknya malah dikeluarkan dari sekolah. Belum lagi, dengan alasan ‘butuh penanganan khusus’, sering kali pihak sekolah umum mengenakan uang pangkal dan uang sekolah yang lebih tinggi. Bahkan ada beberapa sekolah yang meminta orangtua membawa dan membayar sendiri guru pendamping (shadow aid) untuk anaknya yang dimasukkan ke sekolah tersebut. Orangtua jadi seperti ’korban’ sudah jatuh tertimpa tangga," keluh Irwan.

Hety melontarkan cerita yang tak jauh berbeda. "Saya memiliki anak peyandang autisma. Meskipun tidak terlalu berat, cukup sulit baginya untuk bersekolah di sekolah umum. Salah satu kesulitannya adalah berbaur dengan anak lain. Pernah suatu kali saya memasukkannya ke TK umum karena berharap ia bisa mengikuti perkembangan anak lainnya. Tapi gangguan autisma yang ia sandang malah menimbulkan protes dari beberapa orangtua murid karena anak saya sering berulah di kelas. Terkadang ia lari-larian, berteriak-teriak, dan sulit diam sehingga proses belajar jadi terganggu. Masalah tidak hanya di situ, ketika saya ingin menyekolahkan Ivan ke sekolah dasar, banyak sekolah yang tidak mau menerima. Banyak teman Ivan semasa di TK tidak jadi masuk ke sekolah tersebut karena Ivan mendaftar di situ. Tidak mau bermasalah, saya pun mencari sekolah lain. Saya yakinkan pihak sekolahnya jika Ivan bisa bersekolah di sana. Namun hasilnya nihil, Ivan tetap tidak bisa diterima. Alhamdulillah, kemudian saya menemukan sekolah umum yang bisa menerima anak penyandang autis. Meskipun biayanya cukup mahal, saya tidak peduli. Yang penting Ivan bisa bersekolah. Syukurlah, dengan penanganan yang baik di sekolah ini akhirnya Ivan bisa berkembang mendekati anak normal".


sumber: http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah09473-01.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar